Selamat datang di Hamfara-1953.Com

Al Khoir Mukhtarallah

Selasa, 04 Desember 2012 2 komentar

Oleh : Adjih Mubaroq Al Mulk

Ada seorang raja yang memimpin suatu negeri. Raja ini memiliki seorang pembantu yang jika ia terkena musibah, ia selalu berkata “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah). Suatu hari Raja tersebut makan. Kemudian salah satu jarinya terpotong pisau. Spontan pembantunya berkata “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah). Mendengar perkataan itu, sang Raja pun marah dan murka kepada pembantunya. Akhirnya pembantunya dijebloskan ke dalam penjara. Tatkala akan dimasukkan ke dalam penjara, pembantunya berkata lagi ; “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah). Sang Raja pun semakin murka kepadanya.

Hari pun berlalu. Sang Raja pergi berburu bersama pengawal dan anak buahnya hingga mereka keluar dari wilayah kerajaannya. Tiba-tiba mereka bertemu orang-orang penyembah Api dan Dewa (kaum Majusi). Mereka pun menangkap sang Raja beserta rombongannya guna dijadikan persembahan untuk dewa mereka. Satu per satu mereka dibunuh hingga tibalah giliran sang Raja.

Tatkala raja tersebut akan dipenggal, salah seorang kaum Majusi itu melihat jari sang Raja yang terpotong. Suatu persembahan haruslah sempurna sementara ada cacat dalam tubuh sang Raja. Akhirnya sang Raja tidak jadi dibunuh dan ia dikeluarkan dalam keadaan hidup.

Sang Raja pun gembira luar biasa. Ia segera teringat pembantunya yang ia penjara. Raja pun kembali ke istananya dan bertemu pembantunya untuk membebaskannya. Setelah ia bebaskan, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam hati Raja. Ia pun bertanya kepada pembantunya:

Mengapa ketika kamu dipenjara, kamu mengatakan ; “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah) ?

Pembantunya menjawab ; “Jika aku tidak dipenjara, mungkin aku sudah dibunuh seperti pengawal dan anak buah tuan di luar sana”

IBRAH

Sekilas kisah diatas mungkin sudah familiar di kalangan pembaca, tapi bukan berarti kisah tersebut ‘basi’. Tujuan dari suatu kisah adalah memberikan hikmah kebaikan pada setiap pembaca dan pendengarnya tentu saja. Apa ibrah (pelajaran) yang bisa kita ambil dari kisah diatas?
Bagi saya kisah diatas memberikan suatu dorongan motivasi dalam hidup dan memnyadarkan kita betapa sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Tahu atas segala sesuatu. Terkadang sesuatu yang kita benci namun dimata Allah adalah yang terbaik bagi kita, ataupun sebaliknya sesuatu yang menurut kita baik bisa jadi sesuatu yang dibenci dihadapan Allah. Allah berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 216
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu,. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”
Seperti kadang kita selalu mengeluh terhadap realitas keadaan kita. Contoh kecil adalah dakwah. Dakwah kepada Islam dan dakwah dalam rangka melanjutkan kehidupan Islam. Terkadang dakwah membatasi kita dalam melakukan aktivitas yang lain sehingga kesannya, dakwah maalh jadi penghalang. Harusnya sikap seorang muslim tidaklah demikian. Namun menganggap bahwa dakwah merupakan kewajiban. Boleh kita merasa tidak suka dengan dakwah namun suka dan tidak suka harus dikembalikan kepada hakikat kita di dunia. Kalau boleh jujur-jujuran sebenarnya hidup kita di dunia merupakan sebuah amanah yang Allah berikan. Ya, tidak lain tidak bukan amanah tersebut adalah Islam. Cukuplah kita ucapkan, al-khoir mukhtarallah (yang terbaik pilihan Allah).

Apapun bentuk Qadha dari Allah, baik yang kita suka ataupun tidak perlu kita apresiasi. Jika menurut kita Qadha Allah tersebut baik, maka bersyukurlah. Jika kita anggap Qadha Allah merupakan sesuatu yang tidak kita senangi, maka bersabarlah.

Kita diberikan harta, kesehatan, waktu, kesempatan, kecerdasan  dan nikmat yang lain maka bersyukurlah karena Allah pasti akan menambah nikmat tersebut.

Jika musibah yang menjadi sahabat maka bersabarlah. Introspeksi diri. Kemungkinan Allah menguji kita, dan jalannya memang dengan sabar dan insyaAllah kita akan mendapatkan manisnya buah kesabaran tersebut. Namun jika kita merasa bahwa musibah tersebut adalah adzab bagi kita maka kuncinya harus bertaubat dulu dan baru diikuti dengan sabar.

Nah, pembaca sekalian kita harus senantiasa berprasangka baik juga terhadap Allah, karena seperti sabda Rasulullah saw.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

 “ berkata Nabi saw, Allah berkata: Aku berada seperti prasangka hambaKu”

Prasangka Allah tergantung dari prasangka hambaNya, jika kita menganggap segala sesuatu yang berjalan atas kita sebagai suatu keburukan maka Allah pun akan menjadikannya seuatu keburukan. Namun jika kita bersabar dan ridho terhadap ketentuanNya maka insyaAlalh kebaikan pula yang akan didapatkan.

Ayo pembaca sekalian sama-sama kita renungkan, apakah kita sudah berprasangka baik terhadap Allah. Ingat al-khoir mukhtarallah. Jangan sampai kita menjadi makhluk yang tidak tahu diri. Ingat tugas kita adalah beribadah. Jangan focus terhadap hambatan. Jalan dakwah kadang terasa berat dan berduri. Mungkin itu sebuah cobaan. Untuk mengetahui seberapa kuat dan istiqomahnya kita. Keep spirit. Ganbattte.

Wallahu a’lam
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

7 Desember 2012 pukul 04.10

Ini tulisan siapa ya? Tolong disebutkan penulisnya.

29 Desember 2012 pukul 06.11

tulisan ane tadz, adjih..

Posting Komentar
Silakan sebarkan artikel dalam blog ini, dengan syarat tetap menjaga amanah dalam penyalinan dan pengutipan tanpa memotong, menginterpretasi, dan mengubahnya; dan harus mencantumkan sumber dari apa yang diterjemahkan dan dipublikasikan
 
Support : Dakwah Kampus Chapter Hamfara
Hak Cipta hanya milik Allah SWT
Di buat oleh Creating Website dan Di modifikasi oleh Musthalihul Fatih
Di dukung oleh Blogger